Tumbuh, Berproses Perjalanan Teater Epinasti di Festival Teater Kampus Jakarta 2026

Festival Teater Kampus Jakarta (FTKJ) 2026 menjadi ruang pertemuan bagi kelompok-kelompok teater mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta untuk menunjukkan kreativitas, gagasan, serta kemampuan mereka dalam mengolah seni pertunjukan. Festival ini diselenggarakan melalui kolaborasi Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Dewan Kesenian Jakarta, dan Yayasan Seni Kolektif Matahari. Bagi Teater Epinasti dari Institut Media Digital Emtek (IMDE), keikutsertaan dalam FTKJ 2026 bukan sekadar kesempatan untuk tampil di sebuah festival. Perjalanan ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus proses kreatif bagi para mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam seni pertunjukan.
Dari Seleksi hingga Memilih Naskah
Perjalanan Teater Epinasti dimulai dari tahap seleksi awal. Setelah melalui proses kurasi, Teater Epinasti dinyatakan lolos dan berhak melanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu memilih salah satu naskah teater yang telah memenangkan sayembara naskah FTKJ. Dari sejumlah naskah yang tersedia, Teater Epinasti memilih Tuhan, Tolong Bunuh Emak, karya Yessy Natalia. Naskah tersebut kemudian menjadi dasar bagi kelompok untuk merancang konsep pertunjukan yang akan dibawa dalam festival. Tahap berikutnya Adalah pitching di hadapan tiga dewan juri FTKJ, yaitu Rita Matu Mona, Roy Julian, dan Joned Suryatmoko. Dalam sesi tersebut, pimpinan produksi Muhammad Daffa Febrian Bersama sutradara Chelsea Liusiana mempresentasikan konsep produksi yang akan diwujudkan oleh Teater Epinasti. Pitching menjadi salah satu tahapan penting karena kelompok tidak hanya dituntut memahami naskah, tetapi juga mampu menjelaskan visi artistik, konsep penyutradaraan, serta strategi produksi yang akan dilakukan. Hasil pitching membawa Teater Epinasti melangkah lebih jauh. Kelompok ini berhasil masuk ke dalam 15 besar FTKJ 2026.
15 Kampus, 15 Perspektif Pertunjukan
Lolosnya Teater Epinasti ke dalam 15 besar mempertemukan mereka dengan kelompok- kelompok teater mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Kelompok yang terpilih dalam tahap ini terdiri atas Teater Epinasti (Institut Media Digital Emtek), Tetra MNCU (MNC University), LSPR Teatro (Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR), Teater Bintang (Universitas Trisakti), Teater Zat (Universitas Negeri Jakarta), Teater Syahid (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), USB Trisakti (Universitas Trisakti), Teater Menak (Universitas Budi Luhur), Teater Camuss (Universitas Islam As-Syafi’iyah), Teater Kafha (Universitas Paramadina), Teater Hijau 51 (UPN Veteran Jakarta), Teater Katak (Universitas Multimedia Nusantara), Teater Gunadarma (Universitas Gunadarma), Komunitas Ranggon Sastra (Universitas Indraprasta PGRI), dan Castra Mardika (Universitas Negeri Jakarta). Ke-15 kelompok tersebut kemudian menjalani proses kreatif masing-masing. Dalam prosesnya, setiap kelompok memperoleh pendampingan mentor sebanyak lima kali pertemuan. Kehadiran mentor menjadi bagian penting dalam perjalanan artistik setiap kelompok karena proses tersebut memberikan ruang untuk berdiskusi, mengevaluasi gagasan, dan mempertajam konsep pertunjukan. Bagi Teater Epinasti, lima kali pertemuan bersama mentor menjadi kesempatan untuk mengembangkan Tuhan, Tolong Bunuh Emak agar tidak hanya hadir sebagai pembacaan naskah, tetapi menjadi sebuah pertunjukan yang memiliki pendekatan artistik dan penyutradaraan yang kuat. 16 Agustus 2026: Teater Epinasti Naik Panggung Setelah melalui proses persiapan, tiba saatnya Teater Epinasti mempertunjukkan karya mereka. Rangkaian pementasan 15 kelompok berlangsung selama 15 hari, mulai 10 hingga 24 Agustus 2026. Setiap kelompok mendapat kesempatan untuk memainkan naskah pilihannya di kampus masing-masing. Teater Epinasti mendapatkan jadwal pementasan pada 16 Agustus 2026 di Studio 1 Emtek City. Pertunjukan dijadwalkan dimulai pukul 16.00 WIB. Sebelum pertunjukan, Rektor Institut Media Digital Emtek, Totok Amin Soefijanto, Ed.D., memberikan sambutan kepada para penonton dan seluruh pihak yang hadir. Suasana Studio 1 Emtek City pada sore itu dipenuhi penonton. Selain dewan juri FTKJ, pertunjukan juga dihadiri oleh penonton umum, keluarga, serta kerabat para pemain dan tim produksi. Kursi penonton hamper seluruhnya terisi. Ketika pertunjukan dimulai, suasana perlahan berubah. Tuhan, Tolong Bunuh Emak membawa penonton ke dalam cerita yang penuh dengan persoalan keluarga dan pergulatan emosional. Nuansa sendu yang dibangun sepanjang pertunjukan membuat penonton mengikuti perjalanan para tokohnya dengan suasana yang intens. Lima aktor menjadi bagian penting dalam menghidupkan cerita tersebut. Irfan Afandi memainkan karakter Bekti, Salwa Salsabilla sebagai Emak, Afrah Nabila Auralia sebagai Minah, Muhammad Sultan Pasha sebagai Jaul, dan Gezar Rizqy Anargya sebagai Werdi. Kelima aktor tersebut menjadi wajah dari proses Panjang yang telah dilalui Teater Epinasti. Di atas panggung, latihan, diskusi, evaluasi, dan berbagai keputusan artistik selama proses produksi bertemu dalam satu pertunjukan.
Menuju Malam Anugerah
Setelah seluruh kelompok menyelesaikan pementasannya masing-masing, perhatian beralih kepada malam puncak FTKJ 2026. Pada 26 Agustus 2026, Malam Anugerah diselenggarakan di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Perwakilan dari setiap kelompok hadir dalam malam yang menjadi penentu perjalanan mereka selama festival. Bagi para peserta, malam tersebut menjadi momen yang menegangkan sekaligus membahagiakan. Setelah melewati proses panjang, hasil kerja seluruh kelompok akhirnya mendapatkan apresiasi. Terdapat 13 kategori penghargaan yang diberikan, yaitu Grup Terbaik 1, Grup Terbaik 2, Grup Terbaik 3, Grup Terbaik 4, Grup Terbaik 5, Sutradara Terbaik, Aktor Terbaik, Aktris Terbaik, Penata Artistik Terbaik, Penata Cahaya Terbaik, Penata Kostum Terbaik, Penata Rias Terbaik, dan Manajemen Produksi Terbaik. Teater Epinasti berhasil masuk dalam enam nominasi. Enam nominasi tersebut adalah Irfan Afandi untuk kategori Aktor Terbaik, Salwa Salsabilla untuk kategori Aktris Terbaik, Achmad Ziddane untuk kategori Penata Artistik Terbaik, Melki Sedek Seran untuk kategori Penata Cahaya Terbaik, Chelsea Liusiana untuk kategori Sutradara Terbaik, serta nominasi Grup Terbaik. Enam nominasi tersebut menjadi bukti bahwa kerja kolektif Teater Epinasti mendapatkan perhatian dari dewan juri. Namun, malam itu memberikan hasil yang lebih membahagiakan. Teater Epinasti berhasil membawa pulang dua penghargaan, yaitu Grup Terbaik 4 dan Penata Cahaya Terbaik, yang diraih oleh Melki Sedek Seran.
Lebih dari Sekadar Penghargaan
Dua penghargaan yang diraih Teater Epinasti dalam FTKJ 2026 menjadi pencapaian penting bagi kelompok teater mahasiswa Institut Media Digital Emtek. Namun, perjalanan tersebut sesungguhnya tidak berhenti pada trofi dan penghargaan. FTKJ memberikan pengalaman kepada para mahasiswa untuk mengalami seluruh tahapan penciptaan pertunjukan, mulai dari memahami naskah, menyusun konsep, melakukan pitching, menjalani proses Bersama mentor, berlatih, mengelola produksi, hingga akhirnya berhadapan langsung dengan penonton. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Teater Epinasti sebagai kelompok teater yang terus mencari bentuk dan mengembangkan identitasnya. Enam nominasi dan dua penghargaan yang diraih menjadi capaian yang patut disyukuri. Lebih dari itu, perjalanan FTKJ 2026 memperlihatkan bahwa sebuah pertunjukan tidak lahir dalam satu malam. Ia dibentuk oleh proses, kerja sama, kegagalan, evaluasi, keberanian mencoba, dan kemauan untuk terus belajar. Bagi Teater Epinasti, FTKJ 2026 menjadi sebuah awal. Sebuah langkah untuk terus menciptakan karya, memperluas pengalaman, dan membangun ekosistem teater mahasiswa di lingkungan Institut Media Digital Emtek. Sebab pada akhirnya, semangat Teater Epinasti bukan hanya tentang menjadi yang terbaik, tetapi tentang terus“Tumbuh, Berproses.”




